Membangun Integritas Bangsa dan Jiwa Nasionalisme

(Di sampaikan dalam acara LKMM Madya Tingkat Universitas Diponegoro Tahun 2012 )

Saan Mustopa, Anggota DPR RI Komisi III

Saan Mustopa, Anggota DPR RI Komisi III

Oleh : SAAN MUSTOPA

 

LAIN dimulut lain di hati atau lain dalam tindakan dan perbuatan adalah kata-kata yang acapkali kita dengar ketika seseorang melakukan sesuatu yang jelas-jelas berbeda dengan yang menjadi ucapannya. Ketika mengatakan sesuatu lalu perbuatannya tidak menunjukkan apa-apa yang seyogianya sesuai dengan apa yang dikatakannya adalah seringkali disebut bahwa orang itu tidak memiliki Integritas.

Lebih-lebih jika soal integritas ini dihubungkan dengan persoalan-persoalan kebangsaan, persoalaan kemasyarakatan, persoalan kepercayaan dan dukungan terhadap para pemimpinnya. Dan soal integritas bangsa ini bisa menjadi modal besar untuk membangun semangat kebersamaan dalam membangun negeri ini. Integritas dan jiwa nasionalisme selalu berkaitan dan mempunyai hubungan yang erat satu sama lainnya.

Tema yang diangkat teman-teman dalam acara LKMM tingkat Undip tahun 2012 ini amat signifikan dan selalu kontektual. Tidak saja masalah ini merupakan masalah prinsip yang akan berpengaruh terhadap suatu budaya atau kebiasaan hidup yang bersifat mendasar bangsa ini, tetapi lebih-lebih soal Integritas ini adalah soal kepercayaan dan soal bagaimana membangun kekuatan negeri ini untuk bersatu padu diantara seluruh elemen bangsa.

Soal integritas adalah soal prinsip yang bisa menjadi modal penting bangsa ini dalam pembangunan berbagai bidang. Integritas bukan semata-mata soal pencitraan agar kemudian mendapat tempat dihati masyarakat, tetapi harus menjadi semangat kolektif yang amat penting dimiliki dan menjadi habbit atau menjadi kebiasaan penting bangsa ini.

Jika integritas telah menjadi habbit bangsa ini, maka hal ini bisa menjadi modal penting bangsa untuk bersatu padu dalam proses pembangunan. Kita bisa mempunyai posisi tawar yang kuat dimana pun kita berada jika kita bersatu padu. Syarat bersatu padu itulah, diantaranya adalah adanya kejujuran dan kewibawaan yang merupakan cerminan dari jiwa yang terjaga integritas pribadinya.

 

Barang Apa Itu Integritas?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas (noun) adalah mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.  Kata “integritas” berasal dari kata sifat Latin integer (utuh, lengkap. Yakni bahwa integritas adalah rasa suasana kebatinan dan  “keutuhan” yang berasal dari kualitas seperti kejujuran dan konsistensi karakter.

Memiliki integritas yang tinggi bagi seorang pemimpin, di level kepemimpinan manapun amatlah penting. Ippho Santoso (2010) mengatakan integritas akan melahirkan reputasi dan reputasi akan akan melahirkan kepercayaan. Integritas sering diartikan sebagai satunya pikiran, perkataan dan perbuatan. Jika merujuk pada kata asalnya, yaitu integer dan integration, maka integritas mempunyai makna berbicara dengan utuh dan sepenuh-penuhnya.

Menurut Henry Cloud (2007) ketika berbicara tentang integritas, kita berbicara tentang tentang menjadi orang yang utuh, yang terpadu, dan seluruh bagian diri kita yang berlainan bekerja dengan baik dan berfungsi sesuai rancangan. Ini mengenai keutuhan dan keefektifan sebagai orang. Ini benar-benar “bekerja dengan kekuatan penuh”.

Pendapat lain disampaikan Andreas Harefa dalam bukunya Manusia Pembelajar. Dalam buku tersebut dijelaskan salah satu definisi integritas adalah adalah “maining social, athical, and organizational norm, firmly adhring to code of conduct anda atichal principle”. Dengan pengertian tersebut integritas diterjemahkan menjadi tiga tindakan kunci (key action) yang dapat diamati (observable).

Pertama, menunjukkan kejujuran (demonstrate honesty), yaitu bekerja dengan orang lain secara jujur dan benar, menyajikan informasi secara lengkap dan akurat. Kedua, memenuhi komitmen (keeping commitment), yaitu melakukan apa yang telah dijanjikan, tidak membocorkan rahasia. Ketiga, berperilaku secara konsisten (behave consistently), yaitu menunjukkan tidak adanya kesenjangan antara kata dan perbuatan.

Bisa menyimpulkan bahwa integritas adalah soal tentang kualitas diri positif yang dimiliki seseorang yaitu berkata dan bersikap jujur, dapat dipercaya dan tidak pernah ingkar janji. Hal ini amat penting dan menjadi modal besar di dalam membangun hubungan yang positif dan saling menguatkan diantara para pemimpin bangsa ini dan masyarakatnya.

Adalah bagaimana masyarakat dan para pemimpinnya bisa bersatu padu jika diantara keduanya atau lebih tidak mempunyai rasa saling percaya. Bagaimana masyarakat bisa memberikan dukungan dan kepercayaan, jika saja para pemimpinnya tidak mempunyai sikap dan tindakan yang sama dengan semua ucapan dan atau janji-janji di saat mereka membutuhkan dukungan politik. Bagaimana para pemimpinnya bisa mengajak masyarakat bersatu padu, jika diantara unsur masyarakat dan kekuatan masyarakat sendiri terjebak tidak saling percaya satu sama lain. Dan lagi-lagi ini soal integritas.

Untuk membangun integritas dibutuhkan pula kompetensi. Kompetensi ini bukan hanya kompetensi professional saja, tapi ada jua kompetensi kepribadian (spititual dan perilaku), kompetensi sosial (pergaulan dan kepedulian dengan orang lain) dan kompetensi performace. Jika keempat kompetensi tersebut tetap terjaga dan menjadi habbit sehari, maka dengan sendirinya akan terbentuk kepercayaan. Dan jika diantara kita sudah sudah saling percaya, lebih-lebih modal kepercayaan bagi seorang pemimpin dalam memperoleh dukungan dan legitimasi.

Beberapa Definisi integritas menurut para ahli – semata-mata untuk menjadi modal inspirasi dan bahan perenungan -, yaitu diantaranya;

“Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan”

-          Stephen R. Covey-

“ Integritas berarti kita melakukan apa yang kita lakukan karena hal tersebut benar dan bukan karena sedang digandrungi orang atau sesuai dengan tata krama. Gaya hidup, yang tidak tunduk kepada godaan yang memikat dari sikap moral yang mudah, akan selalu menang.”

-          Denis Waitley-

” Dalam matematika, sebuah bilangan bulat adalah bilangan yang tidak dipecah-pecah menjadi pecahan. Demikian pula, orang yang penuh integritas tidak bisa dibagi-bagi menjadi beberapa sosok. Dia bukan orang munafik sehingga dia tidak pernah berbenturan dengan prinsip yang dianutnya.”

-          Arthur Gordon-

” Orang menonjol dalam kelompok orang menunjukkan bahwa dia memiliki perangkat nilai sendiri dan sangat sadar akan harga dirinya. Di saat gagasan yang paling bertolak belakang menghalau sejumlah orang, dan luapan berbagai pendirian menghanyutkan sebagian orang lainnya, dia akan tetap berdiri.”

-          David J. Mahoney-

” Waktunya selalu tepat untuk melakukan hal yang benar.”

-            Marthin Luther King Jr-

“ Nilai-nilai luhur ditatah pada berbagai monumen dan dituliskan pada manuscrip yang diterangi lampu. Kita tidak memerlukan lebih banyak lagi benda-benda seperti itu. Nilai-nilai itu harus dihayati dan diamalkan.”

-            John W Gardner-

” Tidak ada kebahagiaan jika hal-hal yang kita yakini berbeda dengan hal-hal yang kita lakukan.”

-            Freya Stark-

Nasionalisme, “barang” apa itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasional berarti bersifat kebangsaan; berkenaan/berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa. Titik tekan definisi Nasionalisme lebih merupakan paham meskipun memiliki akhiran-isme. Hal ini sesuai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa nasionalisme bermakna paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.

Beberapa pakar mendefinisikan nasionalisme diantara adalah sebagai berikut;

(1)   Nasionalisme sebagai suatu bentuk pemikiran dan cara pandang yang menganggap bangsa sebagai bentuk organisasi politik yang ideal. Suatu kelompok manusia dapat disatukan menjadi bangsa karena unsur-unsur pengalaman sejarah yang sama, dalam arti pengalaman penderitaan atau kejayaan bersama (Soemarsono Mestoko, Indonesia dan Hubungan Antar Bangsa, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988)

(2)   Nasionalisme adalah suatu identitas kelompok kolektif yang secara emosional mengikat banyak orang menjadi satu bangsa. Bangsa menjadi sumber rujukan dan ketaatan tertinggi bagi setiap individu sekaligus identitas nasional (Walter S.Jones, Terjemahan. Logika Hubungan Internasional 2: Kekuasaan, Ekonomi Politik Internasional dan Tatanan Dunia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993),

(3)   Nasionalisme pada dasarnya adalah prinsip politik yang memegang kuat bahwa unit politik dan nasional seharusnya kongruen. Nasionalisme dapat berbentuk sentimen maupun gerakan. Sentimen nasionalisme adalah perasaan marah yang muncul karena pelanggaran prinsip atau perasaan puas akibat pemenuhan suatu prinsip. Sedangkan gerakan nasionalis adalah sesuatu hal yang ditunjukkan oleh sentimen perasaan itu. (Ernest Gellner, Nation and Nationalism, dalam Richard K. Betts, Ed., Conflict AfterThe Cold War: Arguments on Causes of War and Peace, New York: Macmillan, 1994).

Dari beberapa definisi para pakar tersebut dapat digarisbawahi beberapa hal penting, yakni bahwa nasionalisme itu berbicara mengenai identitas kelompok yang bersifat emosional, berbicara mengenai bentuk organisasi politik yang disatukan karena persamaan sejarah, dan berbicara mengenai sentimen gerakan sebagai prinsip politik.

Jika rasa cinta atas bangsa ini telah mampu “menggetarkan” secara emosiaonal dan mampu men-drive kita untuk fokus pada langkah-langkah penting didalam membangun rasa persamaan dan persatuan ketimbang membangun perbedaan-perbedaan yang berujung konflik, maka hal ini bisa menjadi modal spirit untuk mencapai kemajuan.

Spirit untuk mencapai kemajuan acapkali bsa hadir ketika ada rasa persamaan nasib dan sejarah yang sama. Sejarah bangsa ini yang pernah dijajah, pernah dihina, dilecehkan dan dihancurkan sampai pada titik terendah kemanusiaan oleh bangsa lain, seyogianya menjadi perhatian dan titik balik melakukan “pembalasan positif”. Pembalasan positif itu bisa menjadi “dendam positif” dengan cara mengelolanya menjadi sentimen gerakan menuju perbaikan dan gerakan sentimen menuju kemajuan.

Oleh karenanya tantangan untuk maju dan meraih harapan-harapan baru akan bangsa yang lebih adil dan makmur juga tidak lepas dari situasi dan kondisi bangsa yang kondusif dalam persatuan dan kesatuan. Dan hal demikian ini bisa dibangun di atas pijakan adanya kepercayaan satu sama lain. Pun demikian kepercayaan  dan rasa saling percaya itu ada jika ada karena adanya kejujuran dan transfaransi.

Dan hal demikian bisa terwujud lagi-lagi karena terbentuk dan terjaganya nilai-nilai integritas yang memancarkan aura kejujuran dan kewibawaan. Jadi jika saja kita tidak mempunyai integritas maka akan lenyap pula pancaran kewibawaan. Dengan demikian maka setiap ucapan, tindakan dan kebijakan-kebijakan para pemimpin bangsa ini tidak akan pernah efektif dituruti oleh rakyatnya. Sehingga dengan demikian lenyap pula rasa kebersamaan, persamaan, persatuan, kesatuan dan nasionalisme bangsa ini.

Terakhir, marilah kita jaga terus integritas diri kita masing-masing. Mari terus kelola integritas ini dengan membangun skill dan kompetensi, baik kompetensi profesional karena profesi dan pekerjaan kita masing-masing, kompetensi spiritual, moral dan kompetensi performace kita di dalam mengelola agenda-agenda perubahan yang seyogianya harus terus kita kampanyekan. Semua itu semata-mata karena kita mencintai bangsa ini. Semua ini semata-mata karena ada dorongan emosional yang bersifat historis dan menjadi institusi gerakan politik kolektif semua elemen bangsa agar kita bisa maju dan bersatu pada di dalam berbagai persamaan senasib.

Persamaan ini jauh lebih penting ketimbang memperlebar perbedaan hanya karena kita berbeda suku, agama, adat istiadat, kebiasaan dan atau bahkan karena perbedaan kepentingan. Perbedaan-perbedaan itu biarlah hadir karena takdir sejarah yang telah Tuhan tetapkan. Perbedaan itu biarlah menjadi pekerjaan rumah kita untuk kita kelola menjadi energi positif dengan seringnya melakukan komunikasi dan silaturahmi. Semakin sering dan intensif kita kelola perbedaan-perbedaan tersebut dalam kerangka semangat persatuan dan perasaan senasib sebagai satu bangsa, kita akan menjadi negara yang maju dan kondusid dalam mengelola dan pembangunan.

Terima kasih. ….

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka;

 

Anthony Giddens, Terj. Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000

Soemarsono Mestoko, Indonesia dan Hubungan Antar Bangsa, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988, hal. 76

http://endrata.wordpress.com)

Categories: ARTIKEL | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: